<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS Portal Informasi Alumni Institut Agama Islam Negeri Salatiga</title> 
				<description>Sistem Informasi Pendaftaran KKN, Magang dan PLP</description>
				<link>http://localhost/alumni</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Berdayakan Desa Binaan, IAIN Salatiga Serahkan Bantuan Kambing</title>
						                <link>http://legalisir.kangsaid.com/berita/detail/berdayakan-desa-binaan-iain-salatiga-serahkan-bantuan-kambing</link>
						                <description>SEMARANG-Sebagai salah satu upaya pemberdayaan desa binaan, IAIN Salatiga melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) menyerahkan masing-masing satu kambing untuk 50 kepala keluarga (KK) di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada Rabu (09/10/2019).

Selain menyerahkan bantuan kambing tersebut, LP2M juga mengadakan Workshop Penguatan Sumber Daya Manusia Berpendidikan bagi Generasi Muda Pedesaan yang diisi oleh Dra. Siti Asdiqoh, M.Si, Dosen IAIN Salatiga dan Ahmad Daroji, S.Pt, M.si dari Dinas Perterikan Kabupaten Magelang.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Daroji memberikan penyuluhan terkait dengan kesehatan hewan ternak dan cara beternak yang baik. Sedangkan Siti Asdiqoh menjelaskan dampak negatif dari pernikahan dini. “Pernikahan dini bisa berdampak pada masa depan anak-anak. Sistem reproduksi anak yang menikah dini belum matang. Selain itu dari segi emosional dan pemikiran, mereka belum siap,” jelasnya.

Selain itu Asdiqoh juga mengimbau kepada 100 orang peserta workshop untuk tidak menikahkan anak-anak pada usia dini. Alih-alih menikah dini, Asdiqoh menganjurkan para pemuda untuk melanjutkan pendidikan atau berkarya dan bekerja.

Prof. Dr. Muh. Saerozi, M. Ag, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan berharap kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Desa Batur bisa lebih baik dengan adanya bantuan tersebut.

“Desa Batur adalah salah satu desa yang memiliki tingkat pernikahan dini tinggi. Dengan adanya bantuan ini, kami berharap bisa membantu menambah kesejahteraan masyarakat, sehingga generasi muda bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi dan tingkat pernikahan dini bisa ditekan,” tambahnya.

Prof. Saerozi juga mengatakan bahwa IAIN Salatiga sudah melakukan hal serupa di Desa Sepakung, ke depannya kegiatan pemberdayaan yang sudah dianggarkan LP2M tersebut akan lebih ditingkatkan dan jangkauannya lebih diluaskan, misalnya dengan menyasar daerah-daerah perbatasan.

Pada kegiatan yang dihadiri Kepala Desa, Babinkamtibnas, dan pejabat di lingkungan Desa Batur tersebut, Sekretaris Kecamatan Getasan, Drs. Istichomah, M.Si menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan itu. Sekretaris Kecamatan berharap masyarakat bisa memanfaatkan kambing tersebut dengan baik.

“Kambing yang didapat saya harap bisa dipelihara dengan baik. Agar nantinya dapat digunakan untuk memperbaiki pendidikan anak-anak. Selepas SMA kalau bisa kuliah, jangan menikah dulu. Misalnya kuliah di IAIN Salatiga yang biayanya terjangkau,” katanya.

Sugiyono, salah satu warga yang menerima bantuan kambing mengucapkan terima kasih kepada IAIN yang tidak hanya memberi bantuan tapi juga memberikan pendampingan. Sugiyono juga berharap banyak agar kambing-kambing tersebut dapat menjadi tabungan yang bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan warga Desa Batur khususnya para penerima bantuan. IAINSalatiga
</description>
					                </item><item>
						                <title>Gus Miftah Tekankan Peran Mahasantri sebagai Agen Perdamaian</title>
						                <link>http://legalisir.kangsaid.com/berita/detail/gus-miftah-tekankan-peran-mahasantri-sebagai-agen-perdamaian</link>
						                <description>SALATIGA —  Ma’had Jami’ah IAIN Salatiga mengadakan pengajian akbar bersama Gus Miftah Habiburokhman pada Jumat malam (12/10/2019). Dalam tausyiahnya, Gus Miftah menyayangkan peristiwa yang telah terjadi di Indonesia akhir-akhir ini sampai seorang pejabat menjadi korban.

“Seorang pejabat negara saja ada yang berani melukainya, bagaimana keamanan orang-orang seperti saya yang berbicara NKRI dan Pancasila. Ini kan mereka sudah nekad. Kalau kemudian pemahaman-pemahaman ini tidak kita kuatkan, saya ngeri kalau kemudian warga kita terpapar paham-paham radikal,” tandasnya.

Lebih jauh ia menekankan pentingnya peran mahasantri sebagai agen perdamaian dalam mempertahankan NKRI. Maka dari itu santri diajarkan untuk mencintai bangsa dan negara, karena kecintaan pada negara adalah bagian dari iman.

“Aksi bela tauhid, tahlilan. Aksi bela nabi, solawatan. Aksi bela ulama, manakiban. Aksi bela negara, istigosahan. Aksi bela Qur’an, semaan. Aksi bela ilmu, sorogan. Sementara aksi bela mahasiswi putri, ya lamaran.” tuturnya di sambut riuh ribuan jamaah yang memenuhi halaman Kampus 3.

Selain itu, Gus Miftah juga mengingatkan tentang profesionalitas, apa pun pekerjaan yang dilakukan akan mendapat hasil baik jika dilandasi dengan iman. “Satu hal yang perlu diingat, jika kita membaikkan perkara akhirat, perkara dunia dengan sendirinya juga akan membaik.”

Sementara itu, dalam sambutannya, Wakil rektor bidang akademik dan kemahasiswaan, Dr. Sidqon Maesur mengatakan bahwa IAIN Salatiga merupakan perguruan tinggi Islam yang sangat mendukung dan senantiasa meningkatkan ta’zizul wasatiyah, selalu meneguhkan moderasi Islam.

“Peringatan hari santri ini membangkitkan semangat seorang santri untuk cinta negeri, cinta stabilitas negeri ini, cinta kedamaian dan juga mengukuhkan moderasi Islam,” tuturnya.

Di tengah pengajian tersebut, Gus Miftah kembali mensyahadatkan seorang wanita asal Solo, Bhekti Handayani. Bhekti mengatakan bahwa ia tertarik masuk Islam karena Islam menyenangkan dan menenangkan.

Terakhir, Gus Miftah menyampaikan bahwa perilaku umat muslimlah yang dilihat oleh umat lain, sehingga ia mengimbau umat muslim untuk terus berakhlak mulia
</description>
					                </item><item>
						                <title>Menjadi Ilmuwan di Era Matinya Kepakaran</title>
						                <link>http://legalisir.kangsaid.com/berita/detail/menjadi-ilmuwan-di-era-matinya-kepakaran</link>
						                <description>Di era disrupsi, akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi semakin mudah dan cepat. Hal ini mengakibatkan kecenderungan masyarakat lebih suka memilih mengakses secara sumber pengetahuan secara instan. Akibatnya semakin sulit membedakan antara seorang yang pakar dan tidak, karena semua orang dapat berkomentar dan berpendapat isu apapun di media sosial.

Untuk mengupas fenomena tersebut, kali ini redaksi berkesempatan mewawancarai seorang Guru Besar, Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag (Rektor IAIN Salatiga). Berikut adalah hasil wawancaranya:

Menurut Anda, apa yang menjadi tantangan para ilmuwan hari ini?

Hal yang menjadi tantangan serius adalah era distrupsi. Fenomena disrupsi, yakni situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat dan fundamental. Mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Baik itu dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, dan pendidikan/keilmuan.

Misalnya MOOC, singkatan dari Massive Open Online Course serta AI (Artificial Intelligence). MOOC adalah inovasi pembelajaran daring yang dirancang terbuka, dapat saling berbagi dan saling terhubung atau berjejaring satu sama lain. Prinsip ini menandai dimulainya demokratisasi pengetahuan yang menciptakan kesempatan bagi kita untuk memanfaatkan dunia teknologi dengan produktif.

Sedangkan AI adalah mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk melakukan pekerjaan yang spesifik dalam membantu keseharian manusia. Di bidang pendidikan, AI akan membantu pembelajaran yang bersifat individual.

Lalu bagaimana peran guru atau dosen, apakah akan tergantikan oleh teknologi?

Dalam banyak hal mungkin iya. Peran pendidik akan berubah dari sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, bahkan inspirator mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter, serta team work siswa yang dibutuhkan pada masa depan.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh digital, yaitu karakter, kearifan dan spiritualitas. Budaya seperti: empati, altruism, tolong-menolong tidak bisa digantikan mesin/digital.

Jadi, fungsi pendidik bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itulah yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Jika tidak, wajah masa depan pendidikan kita akan suram. Banyak orang berpengetahuan, tetapi tuna etika.

Lalu, apa dampak era distrupsi bagi ilmuwan di tengah masyarakat?

Hal yang sangat nampak akhir-akhir ini adalah adanya kecenderungan ignorance (kedunguan) serta kegandrungan pada literasi instan yang menggejala secara massif sehingga kepakaran terancam mati.

Dengan kata lain, expertise (kepakaran) yang dimaksud adalah keahlian dalam bidang keilmuwan seolah-olah tidak lagi dibutuhkan masyarakat. Masyarakat merasa tidak penting kehadiran akademisi atau intelektual di dunia pendidikan dan kampus, karena internet menjawab semuanya.

Ironinya hal ini jika sampai berimplikasi pada buku menjadi tidak penting. Karena mereka cukup menjadi jama’ah Youtube, Facebook, InstaGram dan WhatsApp. Dengan adanya medsos: semua orang bisa berkomentar berbagai topik dan menyebarkan pengetahuan sesukanya. Tidak dapat dilihat, mana yang pakar dan mana yang tidak, karena semua seakan merasa menjadi pakar dengan semua tema-tema di media sosial.

Lalu bagaimana dengan nasib buku, kalau semuanya serba digital?

Kalau dalam tradisi Islam, menulis buku, mempertahankan tradisi intelektual, dan idealisme ilmu adalah perjuangan yang melelahkan. Salah satu cara memahami keindahan Islam adalah dengan melihat tradisi intelektual yang begitu kuat. Mungkin kita jarang tahu kalau Ibnu Taimiyah mempunyai tradisi, kalau setiap malam tidak pernah tidak menulis. Ini perlu kita teladani. Jangan sampai kepakaran mati karena gatget.

Sebab, ketiadaan tradisi menulis buku dan mewariskan ilmu adalah tanda kematian kepakaran. Karena itu seorang ilmuwan atau akademisi harus memiliki semangat jihad intelektual.

Apa itu jihad intelektual?

Yang jelas bukan jihad dengan pedang, tetapi jihad dengan hujjah dan agumentasi. Para akademisi harus memiliki jihad intelektual. Meskipun sukar jalannya dan sepi pengikutnya, fokus mengerahkan segela kemampuan intelektual untuk terus berkarya. Karena itu jihad ini bisa disebut dengan jihad akbar.

Lalu bagaimana dengan otoritas ilmuwan studi Islam di tengah maraknya literasi keagamaan di internet?

Menurut saya hari ini internet berperan dalam membentuk, mengonseptualisasi, dan memperluas keterlibatan agama para penggunanya dan mendotong interaksi bermotif spiritual, baik secara online maupun offline.

Kini bahkan para pengguna internet telah mendefinisikan internet sebagai “ruang suci” (sacred space) dalam rangka mengimpor ritual-ritual tradisional secara online, berbagai aktivitas keagamaan, dan menghubungkan pemeluk agama dengan situs-situs keagamaan, festival, dan sesamanya, dan menciptakan bentuk-bentuk keagamaan baru.

Bisakah internet menjadi sumber kepakaran atau otoritas keagamaan baru?

Internet memang memberikan ruang yang bebas bagi agama untuk bergerak karena hampir tanpa ikatan dan batasan. Kini internet juga menyerupai kaleidoskop agama, pemikiran keagamaan, ritual dan praktek keagamaan. Webmaster, admin, desainer web menciptakan suatu kelas baru: pemimpin dan penafsir keagamaan online, yang dapat berseberangan dengan figur dan pemimpin keagamaan tradisional.

Agama di internet kini menjadi corong bagi orang-orang yang dulu diam untuk bicara tentang agama, dan menawarkan interaksi antara pembaca dan penulis, serta menciptakan cara berpikir baru tentang agama.

Lalu apa implikasinya bagi kehidupan beragama?

Karena, internet menyediakan platform tanpa batas bagi ekspresi dan sirkulasi kepercayaan-kepercayaan, maka internet mampu mendefinisikan dan mengkerangkai apa itu agama dan apa unsur-unsurnya yang dipandang penting dalam masyarakat.

Selain itu, internet menyediakan guide spiritual (panduan beragama), orientasi moral, ritus ritus dan komunitas. Bahkan menciptakan agama tanpa tempat dan komunitas peribadatan: Muslim tanpa masjid (Kuntowijoyo), Kristen tanpa gereja, Budhis tanpa vihara, Hindu tanpa pura, dst.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Terorisme dan Islamofobia : Distorsi Peradaban Barat</title>
						                <link>http://legalisir.kangsaid.com/berita/detail/terorisme-dan-islamofobia--distorsi-peradaban-barat</link>
						                <description>Kejadian 9/11 pada tahun 2001 dengan runtuhnya menara WTC telah mengubah citra Islam secara global. Pasca tragedi yang menelan kurang lebih 6.000 korban, Amerika dan Eropa mencanangkan perlawanan terhadap terorisme. Aktivitas Islam politik disebut-sebut sebagai pemicu radikalisme. Tujuh belas tahun setelah peristiwa itu berakhir, Islamofobia tumbuh dan mempengaruhi kehidupan kaum muslim di seluruh dunia. Redaksi Islam Berkemajuan berkesempatan mewawancarai Zakiyuddin Baidhawy, guru besar Studi Islam IAIN Salatiga dan pengajar Program Doktor Universitas Muhammadiyah Surakarta, untuk merefleksikan kembali makna situasi ini terhadap perkembangan Islam di Indonesia.

Bagaimana cara mengurai fenomena terorisme?

Sebuah awalan yang tepat untuk mengurai masalah terorisme ialah dengan cara memahami bahwa inti dari teror adalah “meneror”, yakni suatu peran yang secara historis sering, meski tidak harus selalu, dilakukan oleh “kekuatan terorganisir”, apakah oleh negara atau tentara, atau setidaknya ketika negara atau tentara telah menjadi regim despotik. Bagi saya, terorisme adalah tindakan pemaksaan dan kekerasan yang keluar dari koridor hukum dan aturan, bahkan menentang aturan dan hukum itu sendiri.

Bagaimana sebetulnya sejarah perkembangan terorisme?

Terorisme berawal dari kekuasaan kolonial dan  imperial Barat, namun mereka agak sulit untuk mengakuinya karena ketakutan yang tidak jelas. Ketika para pedagang Eropa mengeksplorasi pasar-pasar baru untuk memasarkan surplus produksi mereka sebagai akibat revolusi industri. Mereka datang ke Timur untuk berdagang dan  belanja bahan mentah untuk industri mereka. Ini dilakukan agar mereka dapat mengurangi eksploitasi atas sumberdaya mereka sendiri.

Pasukan Barat datang menginvasi dan menduduki dunia Islam yang sangat luas. Sayangnya pada masa kolonisasi dan imperialisasi ini, belum ada televisi, internet, kamera video dan sarana  komunikasi dan informasi yang dapat memblow up suara dan nalar publik yang memandang Barat sebagai pasukan asing, kaum aggressor dan teroris sejati.

Setidaknya ada tiga tesis yang menjelaskan proses lahirnya terorisme. Tesis pertama meletakkan faktor lingkungan sebagai sebab dan mesin utama lahirnya terorisme. Menurut tafsir ini, teror dikendalikan sedikit banyak oleh kekhawatiran nyata dan praktis, seperti pandangan ideologis dan utopis. Tesis kedua menyatakan ideologi sebagai prasyarat esensial sekaligus alasan dan melakukan teror. Tesis ketiga, memberikan tempat utama pada cara berpikir dan dorongan-dorongan psikologis dari para aktor  revolusi utama yang menganut kredo ideologis tertentu.

Bagaimana dengan terorisme yang sering kali dikaitkan dengan dunia Islam?

Untuk membicarakan terorisme dalam Islam, perlu terlebih dahulu di sini dikemukakan tentang dua hal. Pertama, terorisme di dunia modern-kontemporer memiliki kekhasan antara lain: teror tidak bermotif keagamaan. Dengan kata lain, dalam konteks terorisme, agama tidak menonjolkan dirinya berada di balik teror hingga pertengahan kedua abad 20. Pada faktanya, terorisme abad 19 dan awal abad 20 pada hakikatnya tidak berkaitan sama sekali dengan dimensi keagamaan; dan  terorisme baru ini sering dipraktikkan oleh kelompok-kelompok marjinal yang tidak selalu memiliki tujuan politik yang benar-benar jelas, sekalipun mereka berhubungan dengan sejumlah kecenderungan yang luas –anarkis, populis, marxis, fasis, rasis, dan seterusnya.

Kedua, berkaitan dengan tema Islam dan terorisme, perlu disadari bahwa masalah ini seringkali tidak bisa dilepaskan dari stereotipe dan bias yang sengaja dibangun oleh para akademisi dan pemimpin keagamaan Barat mengenai Islam atau Islamofobia. Paus  Benedict  XVI pernah melontarkan pidato kontroversial  pada 12 September 2006  di University of Regensburg. Ia memandang Islam Timur Tengah sebagai kekuatan kekerasan ekstrem yang menjadi lawan dari Barat yang menganut perdamaian sebagai hasil dari era pencerahan.

Singkatnya Anda ingin menyatakan bahwa Barat pun punya jejak sebagai terorisme global?

Ya. Ada dua fakta sejarah yang telah membuktikan terkait isu terorisme. Pertama, sejarah terorisme klasik sejatinya merupakan anak kandung dari dan dibesarkan oleh peradaban Barat sendiri. Kekerasan dan terorisme di belahan Dunia Timur baru terjadi pada awal abad 20. Kedua, ada kecenderungan kuat di Barat dalam memandang  Islam Timur Tengah sebagai salah satu kawasan surga bagi kekerasan politik dan terorisme, padahal kekerasan dan terorisme kontemporer itu juga bersumber dari Barat sendiri. Sayangnya kenyataan ini seringkali diabaikan.

Misalnya Noam Chomsky and Andre Vltchek bahkan menengarai berbagai kasus teror justru lebih banyak didalangi oleh Barat, utamanya AS. Saya akan menyebut beberapa. Pemboman atom kali pertama oleh AS atas Hirosima dan Nagasaki pada August 1945 telah membunuh sekitar 246.000 penduduk. Pembunuhan Patrice Lumumba, seorang Perdana Menteri Kongo tahun 1961 yang didalangi oleh AS dan Inggris.

Kemudian ada Pembantaian di Guatemala yang didanai oleh Bank Dunia dan Inter-American Development Bank. Sebetulnya ada banyak kasus di mana pemerintahan negara Barat seperti AS terlibat dalam konflik sipil, mereka menjadi dalang perang melalui bantuan keuangan hingga perlengkapan militer. Dengan berkaca pada peristiwa-peristiwa tersebut, kebijakan politik Negara barat justru memicu terorisme global.

Apakah Anda setuju bahwa kajian deradikalisasi di Indonesia berperan dalam meningkatkan Islamofobia, mengapa?

Ya. Insiden-insiden terorisme seringkali menempatkan secara semena-semena Islam atau Muslim sebagai tertuduh. Bahkan pada sebagian masyarakat, terorisme telah melahirkan islamofobia di kalangan Muslim sendiri. Ini lahir sebagai akibat cara pandang tunggal terhadap terorisme. Kajian yang tidak komprehensif (menyeluruh) atas persoalan ini sudah tidak lagi memadai. Sebagai kaum akademisi, kita memerlukan review berbagai model dan teori mengenai bagaimana proses radikalisasi terjadi. Banyak faktor dan kombinasi berbagai alasan terjadinya radikalisasi –baik pada skala individual, sosial dan global– meski tidak selalu berujung pada terorisme.

Bagaimana seharusnya memandang citra selama ini bahwa Barat itu cinta damai, sedangkan Islam identik dengan teoris?

Dari perspektif ilmu sosial, dikotomi antara “Barat cinta damai” dan “Islam cinta kekerasan” sangat mudah dikritik dari berbagai aspek. Pandangan bahwa bentuk-bentuk kekerasan dan terorisme negara atau kekerasan dan terorisme sipil/swasta merupakan corak eksklusif dari pemerintahan despotik Timur Tengah atau kaum fundamentalis Islam anarkhis, sepenuhnya merupakan salah besar.

Penggunaan dan  operasi kekerasan dan terorisme politik juga merupakan wajah asli dari kekuatan Barat yang mampu menciptakan perang dan mempertahankan kepentingan mereka untuk meraih hegemoni kekuasaan politik dan ekonomi.

Kita tidak lagi dapat meletakkan kekerasan dan terorisme  seperti memperhadapkan antara peradaban Barat yang memandang dirinya sebagai beradab dan damai versus  Timur/Islam yang barbar. Bila kita terjebak dalam pandangan semacam ini, maka kita telah membuat tafsir dan analisis perbandingan yang bersifat tidak adil.

Lalu bagaimana seharusnya kita memandang dan menyikapi terorisme yang akhir-akhir ini masih saja terjadi di Indonesia?

Dengan menelusuri jejak-jejak terorisme dan kekerasan di Barat dan Timur, termasuk Islam, kita dapat mengatakan bahwa persoalan utama terorisme yang terjadi di dunia Islam adalah reaksi atas kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan Barat, dan khususnya keberpihakan Barat dalam konflik Israel-Palestina.

Sebagaimana di Barat, terorisme di dunia Islam pertama-pertama justru dilakukan oleh “aktor negara” (state terrorism) yang otoriter. Sementara itu,  terorisme sipil terjadi ketika kebebasan mereka ditekan, dan pada saatnya melahirkan perlawanan dan pemberontakan atas para penindasnya. Jadi, semua problem tersebut melahirkan terorisme bukan semata untuk melawan Barat, namun juga untuk melawan tatanan politik kawasan  yang tidak berkeadilan.

Di sini perlunya menhindari pendekatan profiling dalam memahami teroris. Dinamika radikalisasi dan mobilisasi harus dibebaskan dari  profiling etnik atau agama. Pendekatan ini tidak adil dan harus ditinggalkan. Sebaliknya kita butuh cara pemahaman bahwa proses radikalisasi dapat dianalisis secara komprehensif yang mencakup: motif dan faktor global, situasional, sosial, psikologis atau perilaku.

Bila Islam Timur Tengah dipersepsi sebagai kekuatan yang cenderung pada kekerasan, sudah saatnya persepsi ini diklarifikasi dengan konteks yang melingkupi kawasan tersebut  sehingga diperoleh sudut pandang yang lebih berimbang dan adil terhadap terorisme.
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>